Cerpen Anak-anak | Artikel Terlengkap Mengenai Cerpen Anak-anak

Pak Abe

Hari ini, kami kedatangan beberapa guru baru di sekolah. kabarnya para guru itu dikirim dari tempat yang jauh di daratan sana. Terpisah oleh lautan Indonesia yang luas, wajah-wajah mereka cukup gugup saat perkenalan pertama di pagi yang dingin ini. Salah satunya adalah seorang lelaki dengan wajah kejawa-jawaan, tapi belakangan diketahui kalau ternyata dia adalah seorang Bugis tulen. Dia berbicara agak gugup di hadapan ratusan siswa, raut wajahnya yang pemalu membuat kami tersenyum kecil saat dia berbicara di depan kami.

Pak Abe, ya, namanya Pak Abe. Dia mengajari kami pelajaran Matematika, mata pelajaran yang cukup menakutkan buat kami. Tapi kehadiran Pak Abe membuat pikiran kami sedikit terbuka dengan pelajaran yang satu ini. Betul-betul berbeda, dia mengajari kami dengan begitu sabar. Suaranya cukup lantang untuk seorang guru muda seperti dia. Aku mulai menyukai mata pelajaran matematika.

Saya mulai rajin datang ke sekolah meskipun pernah suatu hari datang terlambat karena sesuatu hal, namun Pak Abe tidak memarahiku, dia hanya menasehatiku dengan lembut, sebab saya mengutarakan alasan yang baik. Hari-hariku kini tidak terlalu sulit, saya belajar matematika dengan penuh semangat. Menurut saya, kebaikan Pak Abe semestinya dibalas dengan hal yang baik juga, sebab pasti dia akan sangat senang jika saya menjadi pintar, maka mulai saat itu, saya mulai rajin belajar. Meskipun saya tidak memiliki buku paket, tetapi di sekolah ada perpustakaan yang bisa kumanfaatkan. Saya mulai merapikan tulisanku, mulai belajar mengerjakan soal-soal matematika, dan belajar berperilaku sopan di depan guru-guru. Pak Abe betul-betul membagikan ilmunya kepada kami. Saya merasakan ilmunya bagaikan hangatnya cahaya mentari di pagi hari.

Hari ini, saya membuktikan itu semua. Saat ulangan tentang garis singgung lingkaran, saya betul-betul senang bisa mendapatkan nilai 89 di kelasku, saya mendapatkan nilai tertinggi dan tidak perlu mengulang. Saya senang dan bangga, ternyata mata pelajaran matematika yang selama ini saya anggap sesuatu menakutkan kini menjadi mata pelajaran favoritku. Saya semakin semangat melalui hari-hariku di sekolah.

Beberapa hari ke depan, sekolahku akan mengikuti Olimpiade Sains. Saya berniat untuk mengikuti tes seleksi  mewakili sekolahku untuk olimpiade matematika. Ada lebih sepuluh siswa yang bersaing mengikuti seleksi ini. Saya mengerjakan soal-soal tes seleksi olimpiade matematika dengan  kesusahan, sebab soal-soalnya membutuhkan analisa dan logika yang cukup tinggi, namun saya mengerjakannya dengan tenang. Pada saat pengumuman, ternyata bukan saya yang terpilih, tetapi siswa lain dari kelas sebelah. Meskipun begitu, saya tidak merasa iri dan sakit hati, sebab saya sadar bahwa kedua sifat ini haruslah dibuang jauh-jauh dalam suatu pertandingan bahkan dalam kehidupan kita. Saya pun sadar dan belajar untuk rendah hati. Saya kalah bukan berarti saya harus berhenti dan putus asa, malah hal itu semakin membuat saya untuk belajar lebih giat lagi.

Setahun berlalu, hari ini adalah hari yang paling menyedihkan buatku, Pak Abe dan guru-guru lainnya akan kembali ke kampung halaman mereka yang jauh di sana. Saat wali kelas datang ke kelas, belaiau menyampaikan berita yang mengagetkan itu, bahwa guru-guru kami yang selama ini mengajari kami, mereka yang jauh-jauh meninggalkan kampung halaman mereka untuk mengajari kami,  hari ini adalah terakhir kalinya mengajari kami di kelas. Saya hanya bisa menutupi wajah, tak kuasa membendung air mata, wajahku memerah, air mataku tumpah. Mungkin saya adalah siswa yang paling banyak menumpahkan air mata mengenang kebaikan guru-guru itu. Saya sedih sekali,  saya dan teman-teman lainnya tidak akan pernah tahu kapan akan bertemu ataupun menemukan guru-guru sebaik mereka. meskipun mereka akan pergi, namun ilmu dan ketulusan hati mereka akan selalu ada di hatiku. Meskipun bukan Pak Abe lagi yang mengajariku kelak, namun saya akan tetap belajar, untuk membuktikan bahwa perjuangan Pak Abe dan guru-guru lainnya tidak sia-sia selama di tanah perantauan. terimakasih guruku, terimakasih Pak Abe. Kebaikan kalian begitu meneduhkan hati kami. Sekali lagi terimakasih yang setinggi-tingginya.

Kata kunci:

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0