Cerpen Anak – Informasi Tentang Cerpen Anak

Cerpen anak adalah cerita pendek yang ditujukan untuk dibaca anak-anak. Cerpen jenis ini bisa ditulis oleh anak-anak ataupun orang dewasa. Tetapi ternyata banyak orang dewasa yang gagal membuat cerita anak. Rata-rata mereka tidak menempatkan pola pikir mereka dalam dunia anak. Akhirnya yang terjadi, tokoh ceritanya anak-anak tapi  gaya berpikirnya orang dewasa.

Bahkan dalam gaya berbahasa pun, banyak orang dewasa yang salah kaprah. Sebagai contoh, mereka banyak menggunakan gaya bahasa yang indah dengan kalimat yang cukup panjang. Contohnya: cahaya matahari pagi menyapu lembut kepalaku, saat kuayunkan langkah dengan cerianya menuju sekolah. Selain kepanjangan, kata-kata seperti itu tidak praktis bagi seorang anak. Mungkin bisa diganti dengan kalimat-kalimat seperti ini : pagi telah datang. Cahaya matahari menghangatkan rambutku. Dengan cerianya aku berangkat ke sekolah.

Hendaknya ketika akan menulis cerpen anak, ingatlah selalu siapa anak dan bagaimana dunia mereka. Makanya, tidak semua masalah bisa disajikan untuk anak-anak. Tulislah hanya sesuatu yang sudah akrab dengan dunia anak.

Oh ya, karena anak itu dalam masa pertumbuhannya  sedang belajar berbagai hal, makanya sikap ingin tahunya juga besar. Jadi, buatlah cerita pendek yang menyusupkan pengetahuan agar bisa menggugah imajinasinya. Selain itu pesan halus pun bisa disisipkan untuk pendidikan moralnya.

Kesimpulan : ketika membuat cerpen anak, buatlah secara wajar dan jujur tentang dunia anak-anak. Usahakan juga bisa menggugah imajinasi anak  dan memperkuat karakter mereka.

Berikut sebuah cerpen anak, semoga bisa menginspirasi.

Akhirnya Feri Kapok

Feri sering iri kepada adiknya, Bobi. Ia merasa kedua orangtuanya lebih memperhatikan Bobi daripada dirinya. Makanya ia sering mengisengi adiknya.

Suatu hari Bobi sedang mewarnai gambar. Tetapi tak lama ia ke kamar mandi. Feri segera melemparkan salah satu krayonnya ke atas lemari.

“Lho, krayon hijauku kemana ya? Tadi di sini,”  katanya setelah kembali. Kemudian ia melihat muka kakaknya.

Tapi Feri tak acuh saja.

“Bu!“ Panggilnya. “Ibu menyapu krayon Bobi, tidak?”

“Ibu belum menyapu,” jawab ibu dari dapur. “Cari dulu di situ, mungkin terselip.”

Bobi pun mengangkat semua bukunya. Ia juga menggulung karpet yang dipakainya duduk. Tak lupa ia melihat-lihat ke bawah lemari. Tetapi tidak ada.

“Ada?” tanya ibu mendekati. “Kamu mungkin lupa menaruhnya.”

“Tidak, Bu. Tadi sebelum ke kamar mandi, Bobi mau mewarnai daun, krayon itu Bobi letakkan di atas buku.”

Ia melihat kembali kepada Feri. Tapi Feri asyik memindahkan saluran televisi. Pura-pura tidak tahu kepanikan adiknya. Hatinya tertawa senang.

Bobi sudah hendak menangis.

“Peri, kamu tahu?” tanya ibu.

“Tidak, Bu,” jawabnya tak acuh.

“Ya sudah, kau gunakan warna merah saja untuk daunnya,” usul ibu.

“Ibu, masa daun berwarna merah?” protes Bobi.

“Kamu lihat di taman sana. Tidak semua daun berwarna hijau. Ada yang berwarna merah kan?”

Bobi akhirnya menurut. Besoknya diperlihatkan gambar itu kepada ibunya. Muka ibunya kelihatan cerah. Nilai mewarnai Bobi dapat sembilan. Feri tambah tak senang.

***

Hari Minggu itu temannya Bobi datang. Mereka hendak bermain bola di lapangan sebelah rumahnya. Feri segera menendang bolanya jauh masuk ke kebun. Tidak kelihatan. Ia tersenyum-senyum sendiri. Menang.

“Lho, tadi bolanya di sini. Kemana ya?” tanya Bobi kepada temannya.

Tapi temannya hanya diam.

“Bu, kemana bola Bobi?”

“Mungkin jatuh ke kebun. Kau cari saja di sana.”

Mereka berdua lalu mencari di kebun. Tapi tak ditemukan.

“Sudahlah kita makan coklat saja yuk!” kata Semi, temannya Bobi. “Aku punya dua, satu untukku dan satu lagi untukmu.”

Wajah Bobi berseri-seri.

“Mau dong, De!” pinta Feri. Telinganya langsung tajam kalau mendengar makanan.

“Tapi Kakak bantu cari bola Bobi dulu, nanti Bobi bagi setengahnya.”

“Kalau itu sih soal mudah!”

Lalu Feri berlari ke kebun. Tapi ia tidak melihat ada satu rantingpun di sana. Bola itu tersembunyi di balik pohon pisang-pisangan yang rimbun. Letaknya persis di bawah pohon mangga.

Akhirnya Feri mencoba menjangkaunya dengan tangan. Karena agak jauh ia jatuh terjerembab. Tubuhnya menimpa tumpukan daun mangga yang jatuh bersama rantingnya.

Tiba-tiba mereka semua kaget. Feri berteriak-teriak. Ia nampak  menyingkirkan sesuatu dari tubuhnya. Ternyata ia diserang semut rangrang. Semut itu berwarna merah. Badannya jauh lebih besar dibanding semut lainnya. Gigitannya juga sakit luar biasa. Semut itu bertebaran di atas tubuhnya.

“Tolong! Toloong!” teriaknya.

Ibu, Bobi dan temannya segera mendekati. Ibu lalu mengusir semut itu dengan sapu dan lap. Lalu dibukanya  semua baju bobi. Diguyurnya air dari kepalanya. Bobi menangis kepayahan. Tubuhnya merah-merah bekas gigitan semut.

Ia masih terisak-isak saat ibu membalurinya dengan obat.

“Sakit sekali, Bu,” rengeknya.

“Kenapa bolanya  bisa ada di sana?” tanya ibu.

“Feri yang menyembunyikannya, Bu. Agar Bobi tidak bermain bola.”

“Kamu selalu iri sih sama adikmu. Jadinya terkena karma. Ayo minta maaf sana!” Perintah ibu.

Feri melihat kepada adiknya.

“Maafkan kakak ya, De.”

Bobi tersenyum.

“Nih coklatnya buat kakak semua. Bobi takut sakit gigi ah.”

Feri menerimanya.

“Terimakasih ya, De. Nanti kakak carikan krayon yang kakak sembunyikan.

Ibunya langsung menjewer telinganya.

“Aduuh, sakit Bu!”

“Ternyata kamu yang suka mengisengi adikmu ya?”

“Iya Bu, Feri ngaku. Tapi Feri janji tak akan berbuat culas lagi. Feri kapok!”

Sejak itu Feri selalu berbuat baik pada adiknya. Mereka menjadi kakak adik yang kompak dan saling menyayangi.

***

Kata kunci:

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0