Contoh Cerpen Singkat – Kumpulan Catatan Terkait Contoh Cerpen Singkat

Contoh Cerpen Singkat atau cerita pendek termasuk tulisan fiksi. Umumnya mempunyai panjang kurang dari 10 ribu kata. Tetapi di beberapa majalah atau surat kabar banyak  mensyaratkan  jumlah kata lebih. Tetapi ada juga cerpen  lebih pendek  yang dikatakan sebagai flash fiction (ff) atau cerita mini. Banyak lagi penyebutan lainnya untuk cerpen singkat ini. Misalnya ada  yang menamakannya cerpelai,  singkatan dari cerita pendek sekali. Sering juga dipanggil dengan sebutan  fiksi mini.

Memang, tidak ada ukuran pasti untuk membuat cerpen pendek ini. Namun biasanya dibuat antara 100-500 kata. Karena itulah, orang sering menyebutnya dengan jumlah katanya, misalnya cerita 100 kata.

Seperti juga cerpen, flash fiction juga walaupun singkat  tetap harus ada temanya, alur cerita, tokoh, dialog dan setting serta solusinya. Ada beberapa penulis yang membuat flash fiction ini hanya mengambil sebagian kejadian saja. Padahal flash fiction harus utuh sebagai cerita dimana memerlukan unsur-unsur tertentu seperti layaknya cerpen.  Berikut dua contoh cerpen pendek sebagai perbandingan jumlah katanya.

Rindu Merah Jambu

 Otakku browsing ke masa tiga minggu lalu. Saat pertama melihatmu. Aku terkesiap, sama sekali tak menyangka  parasmu begitu rupawan. Laksana pangeran dalam impian. Dan senyumnya menaburkan gula-gula di hatiku. Aku merasa mulai terpedaya dengan rasa suka.

Di rumah kita berbagi cerita. Dan engkau menabur banyak benih kekaguman di hatiku. Saat kau shalat di rumah, desah khusyu memanggil Rab sungguh mengharu biru. Kuteriakkan dalam hatiku, ” Rab, seperti inilah lelaki pujaanku!”

Lembut matamu memandangku. Kuteriakkan padamu,” jangan menatapku  begitu, Ben. Daku malu!” Kau pun tersenyum kemudian meminum teh botol yang kusuguhkan.

Setelah itu kita sama-sama mengandung rindu. Tapi seperti jumpa perdana, pertemuan berikutnya susah rasanya. Kau dijerat kesibukan luar biasa. Padahal jarak bukan masalah bagi kita. Kau tidak lagi di Perancis sana. Kau ada di Jakarta. Dengan dua jam saja sebenarnya kita bisa bersua.

“Aku rindu,” smsku hari itu.

“Aku juga sangat rindu padamu,” jawabnya.

“Jadi kapan kita dapat bertemu?” tanyaku menghiba.

“Secepatnya. Jika aku tidak sibuk tentu saja.”

Uh, jadi sangat benci sekali dengan kata itu. Kata itu telah menjadi racun dalam kehidupanku. Sibuk, sibuk dan sibuk.

Jika sibuk itu adalah sebuah bantal, tentu akan kupukul agar dia tidak jadi penghalang pertemuanku lagi. Jika sibuk itu sebuah apel akan kulumat sampai habis, kalau perlu bijinya kutelan sekalian. Tapi sibuk itu telah menjadi mahluk, pembatas rasa rindu kami. Jadinya kuberdoa terus agar engkau tidak lebih mencintai mahluk bernama sibuk itu daripada diriku.

Lama-lama bosan juga melawan si sibuk itu. Kukatakan pagi itu lewat sms.

“Pagi ini kusegerakan shalat, berdoa di hadapan Rabku. Rab, jika Ben itu baik untukku maka mudahkanlah pertemuanku dengannya. Tetapi jika ia tidak baik untukku, maka tolong jauhkan ia dariku dan gantikan dengan yang jauh lebih baik darinya.”

Seperti kebakaran jenggot Ben membalasnya panjang lebar.

“Aku harap kamu mau mengerti kesibukanku.  Akan kuusahakan sebisaku bertemu.  Hari Rabu, ya hari Rabu. Bagaimana, bisa tidak?”

Rabu adalah hari dimana kuharus memprogram semua kegiatan belajar murid-muridku. Rabu adalah pekerjaanku yang utama. Tapi aku tahu, rindu memerlukan pengorbanan. Jadi kukatakan padanya, “Ya, bisa saja tidak masuk kerja. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?”

Jawabnya sungguh di luar dugaan. “Bagaimana lagi, kalau rindu susah ditahan kan?”

Ah Ben, jadinya kumulai menghitung hari sejak pertama kau katakan itu. Kubayangkan melihatmu lagi. Senyummu, gaya berwibawamu dan semuamu.

Ya Tuhan, izinkan aku bertemu dengannya. Biarlah rindu merah jambuku mengantarku dalam kebaikan bersamanya. Amin.

***

Dan berikut flash fiction  yang berjumlah sekitar 200 kata. Terdapat pada buku  kumpulan flash fiction berjudul Kado Untuk Jepang, yang royaltinya semua disumbangkan untuk korban bencana tsunami di Jepang 2011 lalu.

HASEGAWA HARUS PULANG

Pagi cerahku berganti kelabu. Mendung menggelayut di hati. Telah terjadi gempa dan tsunami. Memporakprandakan kota kelahiran sahabatku. Dengan mata tak lepas dari layar kaca, langsung kukontak ia.

Tidak menyahut. Sibuk. Aku maklum. Sepertinya ia panik. Mengingat keluarganya tepat  berada di  sana. Aku merasa semua akan mempengaruhi hubunganku dan dia.

Di tempat kerja kujajakan panggilan rasa peduli. Kukumpulkan  dana untuk korban bencana. Mengharukan simpati teman-teman padaku. Tak segan mereka menyumbang. Jumlahnya bagiku luar biasa. Mungkin mereka tahu diriku seorang perawan tua yang hanya punya satu teman pria. Hasegawa orangnya. Mungkin mereka berterimakasih secara tidak langsung padaku, karena berhasil memperjuangkan hak mereka untuk naik gaji. Entahlah yang mana. Pokoknya uang  dalam amplop itu  menggelembung karena tebalnya.

Dalam galau pagi berikutnya, kupingku menangkap bunyi ketukan. Berlari aku mendekati. Terkesiap manakala melihat siapa yang berdiri.

“Hasegawa San?” kagetku. Ia mematung memandangku. Matanya mengandung sendu. Tanpa terduga, ia memelukku erat. Demikian eratnya hingga kumerasa sesak. Kutangkap sebentuk kepedihan dalam pelukannya.

“Aku pamit pulang, sepertinya tak akan kembali lagi ke Indonesia,” berita itu membuatku semakin berduka. Mataku mulai berkaca-kaca.

Pada akhirnya memang harus melepasnya pergi, demi untuk memperjuangkan cinta pada adik wanita dan ibunya. Aku sadar kuhanya bagian cintanya yang keberapa.

Kata kunci:

Contoh dan Pengertian