Filsafat Pendidikan – Catatan Tentang Filsafat Pendidikan

“Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah hidup itu sendiri”. Itulah sepenggal Filsafat Pendidikan dari John Dewey. Selama manusia hidup, selama itu pulalah manusia belajar. Dan salah satu caranya dengan melalui bangku sekolahan dan bangku kuliah. Begitu pula di Indonesia. Negara yang penuh dengan ragam kultur dan budaya.

Negara yang seharusnya cocok untuk mengembangkan pendidikan itu sendiri. Namun pada kenyataannya, banyak orang yang katanya berpendidikan justru menunjukan sikap dan sifat yang bertolak belakang. Hal ini bisa dilihat dari tindakan-tindakan masyarakat Indonesia yang semakin lama justru semakin menghancurkan negara ini. Tawuran dimana-mana, asusila, bahkan sampai kepada para pejabat yang kerjaannya korupsi terus menerus. Apa yang salah dengan negara ini? Apa yang salah dengan pendidikan di Indonesia?

Filsafat Pendidikan

Filsafat Pendidikan

Di dunia sekolahan dan kuliah, setidaknya ada 3 komponen utama yang terdapat di dalamnya. pemerintah, orang tua, dan anak. pemerintahlah yang menentukan akan seperti apa pendidikan di negaranya. Mulai dari jajaran paling atas yang menentukan berbagai kebijakan dan kurikulum, hingga para pengajar yang bertugas untuk mendidik. Jika kita mundur sedikit kebelakang, ada beberapa kebijakan dan kurikulum yang pernah dilakukan untuk mengatasi masalah dan meningkatkan mutu pendidikan tersebut. Untuk kurikulum yang di mulai dari kurikulum 98, kurikulum 2004, hingga KTSP. Dan yang paling menunjukkan turunnya kualitas pendidikan terdapat pada KTSP. Sampai menimbulkan sindiran dari beberapa pihak bahwa KTSP adalah singkatan dari Kasih Tugas Selesai Pelajaran. Karena memang seperti itulah yang terjadi. Para guru yang berlomba-lomba bolos dan makan gaji buta hanya memberikan tugas kepada siswanya kemudian pergi menghilang entah kemana.

Beberapa kebijakan yang awalnya bertujuan untuk membiarkan semua anak dapat mengecap bangku sekolahan dan juga meningkatkan mutu pendidikan sekolahnya, pada akhirnya tidak sesuai harapan. Sebut saja dari dana BOS, SSN, hingga RSBI dan SBI. BOS atau Bantuan Operasional Siswa malah di manfaatkan oleh sekolah untuk mencari uang tambahan yang nantinya akan masuk ke dalam saku pribadi. Kemudian, semua sekolah berlomba-lomba untuk dapat menyandang predikat SSN, RSBI, dan SBI. Untuk apa? Hanya untuk mendapatkan dana segar dari pusat, tanpa memperhatikan kualitas dan fasilitas yang didapatkan siswanya.

Di dunia sekolah, tidak sedikit para pengajar yang menunjukan sikap yang tidak kalah bejatnya. Mulai dari pungutan yang tidak perlu hingga tindakan tidak bermoral seperti kekerasan dan asusila. Sungguh tindakan yang tidak terpuji. Seyogyanya seorang pengajar memberikan panutan yang baik, malah menunjukkan sikap tidak bermoral.

Dari semua kasus tersebut menunjukan bahwa pemerintah tidak pernah konsisten untuk menangani semua permasalahan pendidikan. Ketika terdapat masalah, mereka lebih memilih untuk membuat kebijakan baru dari pada menyelesaikan permasalahan yang ada. Dengan harapan, kebijakan baru tersebut dapat menyelesaikan permasalahan tersebut dengan sendirinya. Tapi pada kenyataannya, malah makin parah. Pada kasus ini, mereka yang seharusnya menjadi panutan dan teladan, malah memberikan contoh yang tidak baik.

Peranan orang tua tidak kalah penting dalam hal pendidikan. Bagaimana orang tua mendidik anaknya di dalam keluarga, akan menentukan seperti apa watak anak tersebut di masa yang akan datang. Apakah dengan otoriter, dimanjakan, atau bagaimana? Hal itu yang akan membangun karakter sang anak. Orang tua yang terlalu otoriter biasanya akan membangun dua karakter anak di dunia luar. Berwatak keras yang mengarah pada tindak kekerasan atau minder dan tidak bisa bergaul dengan dunia luar. Sementara jika terlalu dimanjakan, akan membangun sikap kurang mandiri dan selalu bergantung dengan orang lain.

Ada satu fenomena unik tentang cita-cita anak dalam sebuah keluarga. Terkadang, siapa yang mempunyai cita-cita dan siapa yang harus mencapai cita-cita adalah dua orang yang berbeda. Orang tualah yang mempunyai cita-cita. Dan anaklah yang harus menggapai cita-cita tersebut. Tanpa memperhatikan kondisi anak apakah mampu atau ingin untuk menggapai cita tersebut.

Anak adalah tokoh utama dalam pendidikan. Merekalah yang menjalani semua metode pembelajaran itu. Baik dari orang tua, guru, maupun berbagai kebijakan dari pemerintah. Walaupun terkadang mereka tidak menginginkannya. Beberapa anak hanya tahu mereka dapat bersekolah dengan senang, beberapa juga memimpikan untuk dapat bersekolah, dan sebagian lagi bersekolah walaupun sebenarnya mereka tidak ingin bersekolah. Mereka mengecap bangku sekolah hanya dengan satu tujuan. Ingin membahagiakan orang tua. Tidak peduli dengan kebahagiaan mereka sendiri, yang penting mereka bisa melihat orang tua mereka tersenyum untuk mereka.

Untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, pemerintah sebaiknya jangan sering terlalu cepat menggonta-ganti kebijakan dan kurikulum. sebaiknya cobalah membenahi yang masih bisa di benahi. perubahan itu perlu jika memang diperlukan. demikian juga kepada para pengajar. kalian adalah kunci utama proses pembelajaran di negara ini. jadi berikanlah contoh yang baik. jadilah panutan kepada semua anak didik yang ada di indonesia. Orang tua juga jangan menjadikan anak sebagai investasi masa depan. orang tua berhak membimbing anak dalam segala hal. tapi bukan berarti menentukan nasib mereka. biarkan mereka menentukan akan menjadi apa kelak. dan sudah menjadi tugas orang tualah untuk selalu mendukung mereka. anak-anak generasi muda penerus bangsa, jangan pernah berhenti bermimpi. kejarlah terus apa yang kalian inginkan dalam hidup kalian, selama itu masih di jalan yang benar. karena kalianlah harapan negara ini untuk memperbaiki semua kecacatan yang terjadi pada negara.

Kata kunci:

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0