Kekuatan Militer Indonesia > Kumpulan Tulisan Tentang Kekuatan Militer Indonesia

Jika kita berbicara mengenai kekuatan militer indonesia,tentu ada beberapa aspek yang dapat dikemukakan. Salah satu nya adalah jumlah personel dari Tentara Nasional Indonesia. Menilik hitungan resmi terakhir yang dikeluarkan oleh kementerian pertahanan,total personel TNI aktif adalah sebesar 438.410 personil. Jumlah ini terbagi menjadi 3 matra. Yaitu TNI Angkatan Darat sebesar 328.517 personil,TNI Angkatan Laut sebesar 74.963 personil dan yang terakhir yaitu TNI Angkatan Udara sebesar 34.930 personil. Hal ini tentu sangat jauh dari ideal,mengingat negara kita mempunyai jumlah penduduk sebesar hampir 250 juta jiwa. Hal ini berarti rasio antara jumlah personil TNI aktif dengan jumlah penduduk sebesar 1 : 571 yang berarti sangatlah jauh dari apa yang dinamakan ideal.

Hal ini sangat ironis,karena menurut rilis terbaru yang dikeluarkan oleh Global Firepower Military Ranks pada 2013,TNI menduduki posisi 15 besar pasukan terbaik di dunia. Ranking ini bahkan mengungguli negara-negara tetangga kita di ASEAN. Malaysia yang selama ini selalu “bermain api” dengan kita saja hanya berada di urutan ke-33.

Jika kita menilik doktrin yang selama ini dianut oleh pembesar-pembesar kita di TNI,maka rasio perbandingan antara jumlah penduduk dengan tentara yang ideal adalah 1 tentara untuk menjaga 3-5 orang rakyat. Jika ditilik lebih dalam,berarti jumlah personel yang dimiliki oleh TNI saat ini sangatlah jauh dari ideal.

Tinjauan ini baru didasarkan dari segi jumlah personil TNI,belum berbicara mengenai Alutsista yang dimiliki. Maka tidak heran jika negara kita yang sempat disegani di era 1960-an sekarang menjadi seperti macan ompong. Bahkan negara tetangga kita yang dulu personil militernya sempat mengenyam pendidikan di Akademi Militer TNI,sekarang menjadi sangat lancang karena berani-berani mengganggu kedaulatan negara kita.

Berbicara mengenai kekuatan militer Indonesia,tentu tidaklah terlepas dari alutsista yang dimiliki oleh TNI. Masih segar dalam ingatan publik,sewaktu KSAD masih dijabat oleh Jenderal Pramono Edhie Wibowo dalam rapat dengan komisi I DPR-RI,sang Jenderal sempat mengeluarkan statement “lu cabot patok,gue sikat”. Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh sang Jenderal karena beliau geram dengan kelakuan negara tetangga kita di perbatasan yang seenaknya saja menggeser patok perbatasan yang memisahkan negara kita dengan Malaysia. Hal itu berani mereka lakukan karena mereka menganggap remeh kekuatan militer kita di perbatasan. Sebagai contoh,sumber intelijen kita mengatakan bahwa Malaysia menggelar tank-tank kelas berat PT-91 buatan Polandia yang berbobot nyaris 50 ton di perbatasan antara wilayah Malaysia dengan Indonesia. Sedangkan kekuatan Kodam VI/Mulawarman yang berbatasan langsung dengan Malaysia hanya mengandalkan tank jenis AMX-13,Saradin yang merupakan light battle tank. Sangat miris,karena Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan asia tenggara tidak memiliki satupun Main Battle Tank(MBT) sebagai komponen dari alutsistanya.

TNI AD sempat mengajukan usulan untuk membeli MBT jenis Leopard yang ditawarkan oleh Belanda,karena Belanda yang terkena imbas dari krisis ekonomi yang melanda eropa tahun lalu berniat melikuidasi 1 divisi tank mereka. Namun hal ini pun kembali mentah di tahap dengar pendapat dan permintaan persetujuan oleh anggota Komisi I DPR RI. Tank Leopard dinilai tidak cocok dengan kontur jalan yang ada di Indonesia. Hal ini tentu sangat menggelitik karena tentunya pihak TNI tidak akan mengajukan usulan tersebut jika mereka belum mempelajari mengenai klasifikasi tank,dan apakah akan cocok digunakan di negara kita. KSAD waktu itu juga menemukan fakta unik,bahwa delegasi untuk menjajaki pembelian tank tersebut yang dipimpin oleh Letjen(TNI) Budiman yang kala itu menjabat sebagai wakasad ditawarkan harga yang lebih baik oleh pihak pemerintah Belanda. Dengan sistem pembelian G to G(Government to Government),TNI AD dengan anggaran sebesar 287 juta dollar akan mendapatkan 100 unit tank. Sedangkan dengan  sistem pembelian melalui kontraktor,dengan anggaran yang sama hanya akan mendapatkan 44 unit tank dengan jenis yang sama. Entah apa yang ada di pikiran Komisi I DPR waktu itu sehingga tidak meluluskan niat dari TNI AD tersebut. Biarlah publik yang akan menilai.

Terlepas dari semua polemik yang dikemukakan oleh penulis,mari kita berharap bahwa suksesor dari Presiden SBY yang akan berakhir masa jabatannya pada 2014 akan lebih serius lagi dalam mengembangkan kekuatan militer Indonesia. Hal ini tentu dalam tujuan menjadikan TNI sebagai alat penjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Kata kunci:

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0