Pantun Anak-anak – Kumpulan Tulisan Menarik Pantun Anak-anak

Disini kosong disana kosong

Tak ada batang tembakau

Bukan saya berkata bohong

Ada katak memikul kerbau.

Rasanya pantun ini sudah sangat umum dikenal di kalangan anak Sekolah Dasar dalam pelajaran Bahasa Indonesia, khususnya yang dulu sempat mengenyam kurikulum 1984 di masa Orde Baru. Bukan hanya yang tertulis diatas, bahkan ada beberapa pantun lain yang juga tidak kalah jenakanya, seperti pantun tentang kelelawar yang menggambarkan kehidupannya yang tidur di siang hari, sementara di malam hari ia mencari rezeki.

Sebetulnya apa sih manfaat dari pantun-pantun itu?

Menurut buku karya Suprapto, S.Pd, pantun yang merupakan puisi asli Indonesia punya berbagai macam fungsi, salah satunya adalah sebagai nasehat kepada orang lain. Coba anda perhatikan mereka yang terutama berasal dari pulau Andalas atau Sumatera, seringkali dalam kesehariannya mereka saling berbalas pantun. Bahkan ada tradisi upacara adat perkawinan disana, dimana para wakil mempelai saling berbalas pantun. Baik untuk saling memuji masing-masing, maupun juga sebagai nasehat yang diberikan kepada calon mempelai agar kelak mereka hidup di jalan yang benar, dan tidak tersesat oleh kemolekan dunia yang semakin menggoda.

Karena salah satu manfaatnya yang begitu besar, terutama sebagai pesan yang diberikan orang tua kepada anak, maka sebetulnya pantun bisa lestari sampai sekarang. Tapi seiring berjalannya waktu, banyak masyarakat Indonesia yang sepertinya mulai meninggalkan kebiasaan berpantun. Bahkan di pulau Jawa saja, yang juga dikenal dengan tradisi parikan, juga sudah mulai meninggalkan salah satu unsur budaya itu. Hanya sedikit sekali yang mau dan mampu untuk melestarikan warisan bangsa ini, dan itupun hanya didominasi oleh kalangan seniman. Kalau di Surabaya, anda bisa temukan mas Kartolo dan ludruk Sawunggalingnya, yang seringkali menggunakan parikan atau istilah lainnya jula-juli yang merupakan pantun khas Jawa Timuran. Memang karena perkembangan zaman, mau tidak mau cak Kartolo harus lebih kreatif lagi mengembangkan isi pantunnya, sehingga seringkali kalimat-kalimat dalam pantun berisikan lelucon yang menghibur sekaligus mendidik. Namun disini kita bisa melihat, bahwa sebetulnya pantun juga punya fungsi beragam.

Kalau dalam kurikulum yang lama, anak-anak tingkat Sekolah Dasar akan mendapat pelajaran bagaimana membuat pantun. Memang mirip dengan puisi, tapi dengan ciri kalimat berima. Artinya kata akhir dari setiap baris pantun biasanya sama semua, atau bunyinya sama pada baris pertama dan ketiga, lalu kedua dan keempat. Sampai hari ini, selain orang Sumatera, orang Betawi dalam kesenian Lenongnya juga masih kerap memakai pantun untuk saling meledek lawan mainnya, atau bahkan untuk menjatuhkan lawan agar ia menjadi bahan lelucon buat yang lain. Sayang memang, kalau pantun ini sampai hilang, atau bahkan diklaim oleh negara lain seperti Malaysia. Karena belakangan ini, akibat kita sebagai pemilik budaya tidak lagi punya kepedulian terhadap kebudayaan kita sendiri, akhirnya justru malah bingung kelabakan ketika negara tetangga kita itu mulai mempreteli satu demi satu seni budaya yang melekat dalam tubuh bangsa ini. Tentu anda semua masih ingat ketika pertamakali lagu Rasa Sayange yang asli karya negeri sendiri, tepatnya berasal dari Ambon provinsi Maluku, diklaim menjadi lagu karya bangsa Malaysia. Tidak hanya itu. Seorang rekan saya yang pulang dari Singapura dalam lawatan kerjanya beberapa tahun yang lalu juga mengatakan, di negeri berlambang patung Merlion itu, ternyata Rasa Sayange juga berkumandang di seantero negeri. Bahkan dalam sebuah acara wisata, sang pemandu dengan tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa lagu itu adalah lagu bangsa Singapura.

Nah, supaya pantun-pantun tersebut tidak hilang, khususnya pantun untuk anak-anak, ada baiknya kita juga ikut punya kepedulian melestarikannya. Cara termudah adalah dengan mencoba menggunakannya sesering mungkin. Memang tidak harus dalam setiap percakapan kita tidak harus jadi sok romantis seperti seorang yang sedang kasmaran. Tapi kita bisa mulai berkreasi dengan pantun-pantun ala kita, ajarkan ke anak keturunan kita. Desak para guru Bahasa Indonesia supaya mengajarkan pantun kepada anak-anak, agar tidak hilang kebudayaan asli negeri ini ditelan zaman atau bahkan diklaim negeri orang.

Link gambar : http://www.ageboy.net/2012/07/pantun-jenaka.html

Kata kunci:

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0