Pendidikan Kewarganegaraan – Artikel Menarik Pendidikan Kewarganegaraan

Tanggung jawab tingkat mutu hak dan kewajiban warga negara merupakan tanggung jawab kolektif dari pendidikan keluarga, luar sekolah, pendidikan formal agar hak dan kewajiban itu membudaya yang didasari oleh nilai agama untuk menumbuhkan disiplin budaya dan disiplin agama, sehingga membentuk nilai bersama untuk kemajuan bangsa.

Kondisi tingkat mutu hak dan kewajiban warga negaranya di latar belakangi oleh kondisi penduduk Indonesia zaman kolonial yang terdiri dari tingkat atau kelas warga negara yaitu golongan Europa, Timur Asing, dan pribumi yang terbawa sampai tahun 2000 ini yaitu budaya feodalisme. Gejolak politik dan ekonomi akhir-akhir ini yang diikuti oleh reformasi yang dampaknya telah banyak mempengaruhi sistem nilai hak dan kewajiban warga negara, walaupun ada hasil sampingnya berupa akses dalam berdemokrasi, sehingga disiplin budaya bangsa seolah-olah ada dalam keadaan dilematis. Kebudayaan bangsa yang langsung berkenaan dengan mutu dan efektivitas hak dan kewajiban warga itu, diantaranya UUD ’45, Keputusan MPR, Undang-Undang, dan peraturan hukum serta kode etik yang dibuat oleh berbagai departemen pemerintah dan lembaga negara dan swasta.

Dalam perjalanan Republik Indonesia sejak tahun 1945, tingkat mutu hak dan kewajiban warga negara dipengaruhi oleh babakan “nation and character building, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila dan sekarang dalam babakan reformasi yang demokrasinya belum diberi nama”, tapi cenderung demokrasi yang mendambakan transparasi, kebebasan berbicara, berunjuk rasa dan supremasi hukum. Tapi dalam setiap babakan demokrasi dan reformasi hak dan kewajiban warga negara akan ditentukan oleh undang-undang dan peraturan yang mengatur keamanan dan ketertiban atau penanggulangan keadaan darurat, dan bahaya sera ketentuan hukum acara pidana, dan aturan dan wewenang kepolisian.

pendidikan kewarganegaraan

pendidikan kewarganegaraan

Dengan latar belakang patriotisme babakan demokrasi yang berpengaruh pada keadaan politik, ekonomi, sosial budaya, hankam, agama, pasal-pasal mengenai hak dan kewajiban warga negara akan dibahas, agar supaya setiap warga negara dan cendekiawan mengerti, memahami tanggung jawab terhadap hak dan kewajiban baik pada lingkungan tugasnya dan hidup berwarganegara dan masyarakat, dalam rangka meningkatkan disiplin budaya sendiri, kelompok, dan bangsa.

Seperti contohnya,sedemikian kagumnya bangsa asing (Barat) terhadap gamelan Jawa baik yang hanya mengetahui lewat karya-karya ilmiah maupun yang mendengar dan mengamati secara langsung, mulailah timbul suatu keinginan untuk memboyong ke negerinya. Dan hal ini memang tidak terbendung juga akhirnya. Banyak gamelan Jawa yang mempunyai nilai seni tinggi mengalir keluar negeri sejak sebelum Perang Dunia II.kebanyakan adalah untuk kepentingan penelitian secara ilmiah, maupun untuk memenuhi kebutuhan permuseuman. Misalnya saja gamelan-gamelan slendro di museum Ethnografi Berlin, Tropenmuseum Amsterdam, Museum Ethnografi Hambung dan gamelan pelog di museum nasional Kopenhagen. Sungguh suatu keprihatinan bagi bangsa Indonesia, karena gamelan-gamelan tersebut termasuk dalam klas yang cukup tinggi.

Bangsa Barat lain yang juga sangat tertarik bahkan melebihi, adalah Amerika Serikat dan Australia. Melalui Prof. Dr. Mantle Hood, Institut Ethnomusicology University of California Los Angeles mendapat dua pangkon gamelan slendro dan pelog di tahun 1958 yang bernama Kyai Mendung. Menurut para ahli gamelan Jawa dan Yogyakarta, gamelan tersebut usianya sudah lebih dari 120 tahun dan termasuk tinggi kualitasnya. Sedangkan pada tahun 1961 mendapat dua pangkon lagi. Kemdian Wesleyan University di negara bagian Connecticut mendapat gamelan slendro dan pelog yang digunakan dalam New York World Fair tahun 1964/1965 yang berasal dari Sala. Dan menurutWasista Soerjodiningrat, tahun 1969 ada dua pangkon gamelan lagi dari Yogyakarta yang diboyong ke Hawaii. Padahal gamelan tersebut termasuk kuno dan baik. Demikian pula University of Michigan memiliki dua pangkon yang cukup baik.

Di tahun 70-an akhir, sebenarnya ada dua perangkat (4 pangkon) gamelan Jawa milik seorang bangsawan Yogyakarta yang akan diboyong ke Perancis. Namun mengingat kualitasnya yang sangat tinggi, yang dua pangkon berhasil diselamatka oleh seorang pejabat tinggi asal dari Yogyakarta pula. Walaupun demikian entah berapa jimlah gamelan Jawa yang berhasil diboyong orang-orang Australia.

Disatu pihak kita memang cukup bangga melihat perkembangan seni budaya Indonesia asli dapat menembus cakrawala seni budaya bangsa-bangsa lain diatas permukaan bumi ini. Entah untuk kepentingan ilmiah ataupun benar-benar dipakai untuk permainan gamelan menurut tata cara yang ada.kita tahu bagaimana murid-murid Mantle Hood memainkan gamelan dengan mengenakan pakaian surjan serta blangkon. Bagaiman pula mereka mendalang dengan bahasa Jawa yang halus. Begitu juga para mahasiswa Australia. Sedangkan sederetan ahli bahasa asing yang telah meneliti sekaligus mempublikasikannya antara lain adalah A. Baudisch (1939), J. S. Buys Brandts (1921), Romesh C. Dutt (1961), J. Groneman (1895), Van Lelyveld (1931), Leon Knopff (1966), Prof. Dr. Mantle Hood (1958 dan 1966), serta masih banyak lagi. Mungkin kini jumlahnya telah mencapai angka ribuan, karena adanya kemudahan sarana yaitu perangkat gamelan Jawa lengkap dalam kualitas yang tidak mengecewakan dapat mereka temui di kampus-kampus mereka sendiri ataupun museum-museum negerinya.

Demikianlah gamelan Jawa semakin banyak dikenal oleh bangsa-bangsa asing. Tetapi dilain pihak, kita betul-betul cemas dan prihatin. Bahwa dengan banyaknya gamelan Jawa kuno yang termasuk kualitas baik diboyong ke luar negeri, kita kehilangan kekayaan seni budaya yang tidak ternilai.

Kata kunci:

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0