Psikologi Kepribadian : Catatan Menarik Psikologi Kepribadian

Psikologi Kepribadian merupakan cabang psikologi yang mempelajari mengenai karakter dan perbedaan tiap individu. Kepribadian atau personaliti seseorang dapat  didefinisikan sebagai karakteristik yang dinamis dan teroganisasi berbeda-beda dan dimiliki oleh masing-masing individu yang mempengaruhi motvasi, perilaku, dan kognisi secara unik pada situasi yang berbeda-beda. Kata ‘personaliti’ sendiri berasal dari bahasa Latin ‘persona’  yang berarti topeng. Kata ini digunakan karena topeng digunakan sebagai representasi atau tipikal dari suatu karakter yang sedang diperankan dalam teater zaman Latin kuno.

Sejarah Psikologi Kepribadian

Pelopor psikologi dari Amerika, Gordon Allport (1937) mendeskripsikan 2 cara utama untuk mempelajari karakter, yakni dengan (1) nomotethic dan (2) idiographic. Psikologi nomothetic melihat adanya hukum umum yang dapat diberlakukan untuk tiap individu yang berbeda, seperti prinsip self-actualization atau sifat-sifat dari extraversion. Psikologi idiographic mementingkan pengenalan tiap individu sebagai aspek yang unik dan berbeda-beda.

Pembelajaran mengenai psikologi ini telah banyak menyebar dan mengalami perubahan seiring dengan perjalanan sejarah, dengan banyak kemuculan tradisi yang teoritis. Di antaranya yang merupakan teori utama adalah perspektif disposisional, psikodinamis, humanistik, biologis, perilaku, dan pembelajaran sosial. Tidak ada suatu definisi pasti mengenai ‘kepribadian’ dalam psikologi. Sebagian besar peneliti dan ahli psikologi tidak secara eksplisit mengidentifikasinya dari perspektif tertentu dan lebih memilih untuk melihatnya dari berbagai aspek. Seperti model kepribadian ‘the big 5′ yang menekankan peneliti pada pengembangkan teori seperti psikodinamis.

Model Kepribadian The Big Five

gambar 4Model ini merupakan hasil dari penelitian ahli psikologi yang telah dilakukan selama beberapa dekade. Model ini memungkinkan kita melihat individu sebagai karakter yang mempunyai komponen umum yang penting digunakan saat bersosialisasi dan berinteraksi secara interpersonal dengan individu lain. Berikut adalah dimensi-dimensi dari model kepribadian The Big  Five.

  1. Extraversion (dimensi dari tingkat sosial dan entusiasme individu)
  2. Ageeableness (dimensi dari kebaikan dan sikap bersahabat individu)
  3. Conscientiousness (dimensi sikap terorganisasi dan etika kerja individu)
  4. Emotional Stability (dimensi dari tingkat ketenangan dan kedamaian individu)
  5. Intellect (dimensi dari tingkat kreativitas dan penasaran individu)

Extraversion adalah hal-hal yang berhubungan dengan emosi positif dan keinginan untuk mencari kebersamaan dengan individu lain. Individu yang mempunyai tingkat extraversion yang tinggi sangat menyukai interaksi dengan individu lain dan pada umumnya sangat bersemangat. Mereka suka berkomunikasi, antusias, suka menonjolkan diri, dan menjadi bagian yang ‘terlihat’ jika berada di dalam satu kelompok.

Agreeableness merupakan hal-hal yang berhubungan dengan sikap ingin membantu dan menyetujui untuk tujuan bersama. Individu dengan tingkat agreeableness yang tinggi mempunyai kemampuan bekerja sama yang baik, hangat, mudah berteman, dan bijaksana. Di samping segala hal positif yang pada umumnya dimiliki oleh individu dengan agreeableness yang tinggi ini, ia memiliki sisi negatif berupa kemampuannya dalam kepemimpinan yang kurang.

Consciousness adalah hal-hal yang berhubungan dengan keinginan untuk berekspektasi akan sesuatu. Individu dengan tingkat consciousness tinggi akan melakukan persiapan dalam segala sesuatunya dibandingkan melakukannnya secara spontan.

Emotional Stability atau dikenal pula sebagai negatif Neuroticism merupakan hal-hal yang berhubungan dengan emosi positif seperti ketenangan, kedamaian, atau semangat. Oleh karenanya dapat disimpulkan pula neuroticism adalah hal-hal yang berhubungan dengan emosi negatif seperti amarah, gelisah, atau depresi.  Individu yang mempunyai tingkat emotional stability yang tinggi akan mempunyai kemampuan untuk berpikir secara jernih, menentukan keputusan, dan menanggulangi emosi-emosi negatif yang terjadi.

Intellect atau sering dikenal pula sebagai openness to experience adalah hal-hal yang berhubungan dengan apresiasi seseorang terhadap emosi, imaginasi, ide yang tidak lazim, seni, petualangan, keingintahuan, dan berbagai macam pengalaman yang dialami individu. Individu yang mempunyai tingkat intellect yang tinggi pada umumnya mempunyai sikap yang apresiatif akan seni, suka penasaran, dan sensitif terhadap keindahan. Individu ini akan cenderung lebih kreatif dan sensitif terhadap perasaannya dibandingkan individu yang tertutup.

Model penentuan kepribadian ini bukan berbentuk ‘tipe’ melainkan lebih ke ‘dimensi’ dari suatu karakter individu. Oleh karenanya karakter dari tiap individu ditentukan dari kombinasi tiap dimensi dari model kepribadian The Big Five.

Sumber gambar: chughtailab.com  blog.lib.umn.edu

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0