Teori Ekonomi | Kumpulan Catatan Terlengkap Tentang Teori Ekonomi

Kata Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata oikos yang artinya rumah tangga (house-hold) dan nomos yang artinya aturan atau kaidah. Sementara, teori berasal dari kata latin theoria, yang artinya perenungan. Secara singkat, teori ekonomi artinya hasil dari perenungan mengenai pemenuhan kebutuhan rumah tangga (hidup).

Sejak manusia dilahirkan, manusia tidak bisa dilepaskan dari teori ekonomi tertentu sekalipun tanpa disadari. Misalnya, jika seseorang berprofesi sebagai pedagang, maka dia bisa dikatakan menggunakan teori merkantilisme (perdagangan).

Sepanjangan sejarah manusia, dikenal berbagai macam teori ekonomi yang tumbuh dari kondisi-kondisi sosial pada masyarakat di zaman tersebut. Semakin maju suatu masyarakat, teori-teori ekonomi semakin berkembang sejalan dengan perkembangan praktek ekonomi itu sendiri.

Berikut teori ekonomi mainstream yang dikenal hingga saat ini adalah sebagai berikut:

1. Teori Nilai (Value Theory)

Menurut Adam Smith, barang memiliki dua jenis nilai, yakni nilai guna (value in use) dan nilai tukar (value in exchange). Harga barang ditentukan dari jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu barang. Jumlah tenaga kerja yang dimaksud tidak hanya diukur dari berapa lama waktu yang digunakan untuk bekerja. Tetapi juga diukur dari keterampilan tenaga kerja. Jika Budi menerima upah Rp10.000/hari, sementara Anton menerima upah Rp5.000/hari, artinya Anton memiliki keterampilan (skill) yang lebih tinggi.

Perbedaan tenaga kerja yang dicurahkan untuk menghasilkan barang menciptkan perbedaan harga. Misalnya, waktu yang diperlukan untuk menangkap satu ekor rusa selama 1 jam, sedangkan waktu yang diperlukan untuk menangkap satu ekor berang-berang selama 30 menit, maka harga rusa lebih mahal daripada berang-berang.

Barang yang memiliki nilai guna tinggi belum tentu bisa dipertukarkan, contohnya air laut. Sementara barang yang tidak memiliki nilai guna bisa jadi memiliki nilai tukar yang tinggi, contohnya intan. Nilai tukar dapat diartikan sebagai kemampuan suatu barang untuk memperoleh barang lain, yang berarti nilai tukar sama dengan harga barang itu sendiri.

2. Teori Pembagian Kerja

Produktivitas tenaga kerja dapat ditingkatkan dengan pembagian kerja (division of labour). Pembagian kerja mendorong tenaga kerja untuk mengerjakan bagian terbaik sesuai dengan keahliannya masing-masing.

Dengan adanya spesialisasi, seseorang tidak perlu menghasilkan barang-barang yang dibutuhkan secara sendiri-sendiri, tetapi hanya menghasilkan satu jenis barang saja yang melimpah (berlebih). Surplus barang dapat diperdagangkan di pasar, sehingga barang-barang yang bisa dipertukarkan semakin berlimpah.

3. Teori Akumulasi Kapital

Cara terbaik untuk meningkatkan kekayaan adalah dengan cara berinvestasi, yaitu membeli mesin-mesin dan peralatan. Dengan mesin-mesin dan peralatan yang lebih canggih maka produktivitas akan meningkat. Jika produktivitas meningkat, maka keuntungan perusahaan juga akan meningkat. Kemudian, perusahaan dapat memperluas usahanya, menyerap tenaga kerja baru dan membayar pajak kepada pemerintah.

Teori yang menekankan akumulasi kapital (modal) dalam pembangunan ekonomi ini sendirinya berhaluan liberalisme ekonomi, yang memberikan kebebasan seluas-luasnya kepada individu untuk bertindak dalam kehidupan ekonomi.

4. Teori Pertentangan Kelas

Menurut Karl Marx, sejarah masyarakat adalah sejarah pertentangan kelas. Pada zaman perbudakan, kelas pemilik budak bertentangan kepentingan dengan kelas budak. Pada zaman feodalisme, kelas pemilik tanah (feodal) bertentangan dengan kelas petani. Pada zaman kapitalisme, kelas kapitalis bertentangan dengan kelas buruh. Pertentangan kelas dilahirkan dari kepemilikan alat-alat produksi. Ada kelas-kelas bermilik yang berbeda kepentingan dengan kelas tidak bermilik. Pertentangan kelas ini bersumber dari kehidupan ekonomi masyarakat.

Saat ini, terdapat kelas pemilik modal (pengusaha) yang memiliki alat-alat produksi, dan di sisi lain terdapat kelas buruh yang menjual tenaganya pada kelas pemilik modal. Marx berteori bahwa kelas buruh akan bangkit untuk melawan kesewenang-wenangan kelas pemilik modal.

Upah buruh hanyalah upah subsisten untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup. Bagi penganjur teori ekonomi Liberalisme, upah subsisten ini adalah upah alamiah. Sedangkan menurut Marx, upah ini alamiah ini adalah perbudakan-upah. Padahal nilai yang dihasilkan buruh jauh lebih besar daripada nilai yang diterimanya. Kelebihan nilai produktivitas tersebut disebut sebagai nilai lebih (surplus value) yang dinikmati oleh para pemilik modal. Jadi, semakin kecil upah buruh, maka semakin besar nilai lebih yang bisa diambil oleh kapitalis dalam bentuk keuntungan (profit).

Sumber foto: americanbuilt.us

Share on Google+0Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0