Unsur Intrinsik Cerpen – Tulisan Terkait Unsur Intrinsik Cerpen

Sastra memiliki kekayaan bahasa serta bentuk format cerita yang menggoda para pembacanya. Keberhasilan sastra dalam menarik perhatian pembacanya tergantung dengan gaya cerita mengarangnya. Karakter pada penulisan sastra memang tidak mudah perlu seni bahasa serta kebiasaan dalam membuat cerpen menarik. Berbagai macam bentuk karya sastra yang kita kenal saat ini yaitu novel, puisi, pantun, cerpen dan sebagainya. Kadangkala cerpen menjadi pilihan paling mudah dalam mengawali menulis cerpen bagi pemula.

Karena cerita pendek memiliki pola serta unsur paling mudah dipahami. Unsur ekstrinsik serta unsur intrinsik cerpen memang harus dipahami pada setiap memulai menulis cerpen. Jika kita memaknai cerpen secara ekstrinsik adalah bagian-bagian pendukung dari gagasan serta inspirasi cerita seperti pengalaman pribadi, kehidupan nyata, imajinasi, mimpi, dan sebagainya. Sedangkan intrinsik merupakan bagian dari tahapan membuat sebuah cerpen seperti tema, setting, alur, penokohan, serta sudut pandang. Proses penyusunan semacam itu merupakan syarat bagi para penulis fiksi untuk memulai berkarya.

Unsur Intrinsik Cerpen

http://tsani-oke.blogspot.com

unsur intrinsik cerpen

unsur intrinsik cerpen

Beberapa unsur intrinsik cerpen merupakan kebutuhan penting bagi penulis fiksi untuk memahaminya dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Tema

Asal kata tema dari bahasa Yunani yaitu “thithenai” berarti sesuatu yang diuraikan atau telah ditempatkan. Tema merupakan amanat yang disampaikan oleh penulis kepada pembacanya. Proses karang mengarang tema merupakan pokok pikiran dalam tulisannya, sedangkan proses tulis menulis merupakan pokok bahasan dalam susunan penulisan. Menentukan tema berarti menentukan apa masalah sebenarnya pada penulisan fiksinya. Pendapat lain mengatakan bahwa tema merupakan satu gagasan, pikiran, atau persoalan utama yang mendasari sebuah karya sastra dan terungkap secara langsung (eksplisit) atau tidak langsung (implisit).

Membuat tema yang baik adalah sebagai berikut:

- Tema menarik perhatian pembaca

- Tema dapat dikenal serta dipahami dengan baik

- Bahan-bahan penyusun tema mudah didapat

- Tema dibatasi ruang lingkupnya

2. Setting

Setting merupakan latar belakang cerita dibuat, penguat dalam segi bercerita terletak pada latar belakang pendukung. Kebutuhan setting ada berbagai macam bentuk serta harus dipahami dengan baik sebagai berikut:

- Latar Tempat

menggambarkan lokasi terjadinya peristiwa diceritakan dalam sebuah cerita. penggunaan latar tempat ini hendaklah tidak bertentangan dengan realita tempat sesungguhnya, sehingga pembaca mampu mengetahui keberadaan tempat tersebut dalam ilustrasi cerita.

- Latar Waktu

menggambarkan kapan sebuah peristiwa itu terjadi, mulai dari awal sampai akhir. pada tema sejarah, hal ini penting diperhatikan, terutama menceritakan masa atau jaman terjadinya cerita tersebut bermula. Sebab waktu yang tidak konsisten akan menyebabkan rancunya sejarah itu sendiri. Latar waktu juga meliputi lamanya proses penceritaan.

- Latar Sosial

Latar sosial mencakup hal-hal yang berhubungan dengan kondisi tokoh atau masyarakat setempat. Termasuk di dalamnya adat istiadat, keyakinan, perilaku, budaya, dan sebagainya. Latar sosial sangat penting diketahui secara benar sebagaimana lingkungan disekitar, sebab hal ini berkaitan erat dengan nama, bahasa, dan status tokoh dalam cerita.

- Latar Emosional

Keberadaan latar ini lebih sering muncul saat membangun konflik, hingga sang tokoh memiliki peran sangat penting dalam sebuah alur. Ada karangan yang secara keseluruhan hanya bercerita tentang konflik emosi seorang tokoh, hingga latarnya total berupa emosi. Latar emosi ini biasanya terbaca melalui dialog-dialog, perenungan, dan kecamuk perasaan si Tokoh.

3. Alur atau plot

merupakan rangkaian cerita dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga terjalin sebuah susunan cerita yang dihadirkan oleh para pelaku. Beberapa tahapan plot atau alur yang sudah umum dipergunakan oleh para penulis sebagai berikut:

- Tahap penyituasian (pengenalan tokoh serta setting)

- Tahap pemunculan konflik (pengantar cerita inti)

- Tahap Peningkatan konflik (penyusun konflik/penokohan antagonis dan protagonis)

- Tahap Klimaks (puncak konflik)

- Tahap Penyelesaian (resolusi)

4. Penokohan

Setiap pengarang mempunyai cara tertentu dalam melukiskan watak pelaku. Adanya cerpen, pengarang dapat menggambarkan watak para tokohnya dengan menggunakan beberapa teknik perwatakan yaitu teknik analitik dan teknik dramatik yaitu pelukisan watak para tokohnya melalui jalan cerita. Penokohan yang baik adalah keberhasilan penokohan saat menggambarkan tokoh-tokoh tersebut dengan mewakili tipe-tipe manusia sesuai kehendak penulis.

Tahapan penentuan tokoh dapat dilakukan secara ekpositoris, dramatik serta identifikasi tokoh. Ekspositoris merupakan teknik analisis, dalam teknik ini sang tokoh dimunculkan karena memiliki motivasi penjelasan alur, uraian, atau penjelasan secara langsung. Teknik dramatik sebagai teknik memberikan unsur dramatik pada cerpen untuk dimunculkan sebagai tokoh pemicu maupun pendukung drama itu sendiri. Identifikasi tokoh diperuntukkan pada pengenalan diri tokoh sebagai fungsi utama maupun figuran, bisa dilakukan secara berulang-ulang ditulis maupun secara karakter sifat pada dialog atau pada setting.

5. Sudut pandang

Biasa disebut sebagai point of view yaitu bagaimana sang penulis menempatkan dirinya pada satu karangannya. Penulis dapat menempatkan dirinya pada sudut pandang orang pertama tunggal maupun jamak, sudut pandang orang kedua, serta sudut pandang orang ketiga. Pada dasarnya sebelum menulis perlu memperhatikan dirinya akan sebagai siapa dan bagaimana nanti akhirnya diri bertindak dalam cerpen.

Kata kunci:

Share on Google+2Share on Facebook0Tweet about this on Twitter0Share on Reddit0Share on StumbleUpon0Share on TumblrDigg thisShare on LinkedIn0